Kemarin, 6 Maret 2012 adalah salah satu hari di mana aku berbunga-bunga. Peristiwa kemaren akan aku ingat sepanjang hidupku. One of the most sweet memories that I had.
Pagi itu sekitar jam 9 pagi, kami mengantar anakku sekolah. Biasanya anakku berangkat sendiri ke sekolah, tapi hari itu dia akan pergi kemah selama 4 hari. Jadilah kami membantu membawa kopernya dan juga untuk say good bye. Anakku itu memang sangat menantikan acara kemahnya ini, sejak beberapa hari sebelumnya dia sudah excited setengah mati. Aku bersyukur tanpa disuruh, dia memang ingin ikut. Sementara teman-temannya mungkin perlu dibujuk-bujuk. Kemah ini acara tahunan sekolah. Sejak kelas 3 dia sudah pergi kemah selama 3 hari, yang kesempatan kali ini saja agak lama, 4 hari (mungkin karena sudah kelas 5). Menurut anakku, tahun depan malah dia akan pergi lebih jauh lagi, ke Canberra tepatnya. Perjalanan ke Canberra butuh sekitar 9 jam naik bis.Yang jelas musti nabung mulai sekarang, karena ongkosnya pasti lumayan mahal.
Cerita kembali ke sekolah ketika dia mau berangkat. Setelah kufoto sama beberapa temannya, anak-anak kemudian berbaris menuju bis yang akan membawanya. Dia langsung duduk bersama temannya bernama Rory, kira-kira nomer dua dari belakang. Aku dan ibu-ibu yang lain menunggu di luar bis sambil menanti keberangkatan anak-anak. Aku mengobrol bersama ibunya teman baiknya anakku. Eh, tau-tau ada seorang ibu nimbrung. Ketika berkenalan, temanku itu kemudian memperkenalkan diri ke ibu yang baru nimbrung tsb, dan tak lupa mengenalkan aku juga kepada ibu baru tadi. “This is Kun, Wisnu’s mom”. Lah kok,si ibu baru tadi langsung ngomong gini:”Oh, you are Wisnu’s mom??”. My son has been talking about Wisnu, he is a big fan of Wisnu, he is so gentle, he is my son favorite friend”.
Oh my God,,,, I was very happy. Kata-kata yang sangat menyejukkan sekaligus membanggakan. I am very proud of you Wisnu. You make a lot of friends and your friends really like you.
Love you always son
Posted on 7 March '12 by karma, under Everyday Experience. No Comments.
belajar untuk tidak komplen bukan perkara mudah, terutama orang-orang yang sudah terbiasa mengeluh. saya termasuk golongan itu. tapi saya punya tekad untuk mulai mengurangi kebiasaan yang satu ini. salah satu motivasinya adalah saya tidak ingin ditiru oleh anak saya. bukankah anak adalah peniru jitu ?
ketika dihadapkan masalah kecil dan sepele, aku berusaha untuk menahan diri untuk tidak berkomentar negatif.
Posted on 22 February '12 by karma, under Uncategorized. No Comments.
mencintai ataukah dicintai, pilih yang mana ?
Sebuah pertanyaan yang diajukan seorang kawan di sebuah forum. Kalau pertanyaan ini dilontarkan ketika saya kuliah, maka pilihan saya jelas dicintai dong ! karena dari dulu selalu banyak nasehat dari orang-orang disekitar, lebih baik kita itu dicintai, karena bla.. bla.. bla.. Dan saya termasuk yang percaya, tapi sikap saya selama saya ini malah menunjukkan sebaliknya. dicintai memang sebuah pilihan yang manusiawi dan juga indah. tetapi, saya berusaha untuk mencintai terlebih dulu.
Beberapa tahun terakhir ini saya lebih mantap menyatakan bahwa lebih indah mencintai. sebuah kejadian yang membuat saya sadar sepenuhnya. berawal 6 tahun lalu, anakku yang bilang bahwa ia tidak suka dengan ibunya dan lebih suka dengan om-nya. alamak, rasanya hati berkeping-keping, nelangsa tidak karuan, ada rasa tidak terima, marah, sesak rasanya mendengarkan anakku yang berumur 4 tahun ngomong begini. mengapa ?? tetapi karena kejadian inilah aku jadi merenungkannya. kejadian ini sekaligus seperti pukulan keras untuk ego-ku. aku jadi sadar se-sadarnya.ini titik balik dalam hidupku. aku adalah ibu, welas asihku yang begitu besar terhadap anakku, bagaimanapun ia bertingkah laku, ia tetap anakku, dan aku mencintainya.
Anakku adalah guru spiritualku.Anakku juga yang menyadarkan aku. Bahwa mencintai tidak perlu alasan. Mencintai tidak membutuhkan balasan. Mencintai tidak perlu menunggu untuk dicintai terlebih dulu. Mencintai adalah memberi. Tidak ada kekecewaan dalam mencintai. Mencintai adalah kebahagiaan. Mencintai Titik. Tidak ada syarat disitu. Memang segalanya perlu belajar dan latihan keras untuk bisa mendidik diri, bahwa mencintai tidak memerlukan syarat, hanya memberi dan memberi, dan tak harap kembali. Menjalani hidup dengan sikap seperti ini akan membawa inner happiness dan juga inner peace.
Salah satu tujuan hidup adalah untuk mencintai.
Pelajaran yang sungguh berharga untuk pertumbuhan jiwaku. Terima kasih, anakku
Melbourne, 1 December 2011
On each step a new world opens up, of tremendous meaning, of incredible ecstasy.
Try to live from the essence and you will come religious.
Posted on 20 November '11 by karma, under Uncategorized. No Comments.
Begitulah lebih kurang aku mendefinisikan diriku. Sejak kecil, meski aku tidak secara sadar menilai diriku sendiri, akan tetapi sehari-hariku mencerminkan as an average kid.
Rata rata dalam bergaul
Yupp, dengan yakin aku bisa mendeskripsikan diriku sebagai orang yang gak begitu pandai bergaul. Memulai pembicaraan adalah hal yang sulit aku lakukan, apalagi dengan orang yang aku kenal dan bahkan di lingkungan yang baru. Apalagi sense of humor-ku ini agak agak parah, alias kurang bisa tune in kalo ada yang nyeletuk joke, susah merespons, apalagi kalo disuruh bikin jokes yang lucu.Angkat tangan deh pokoknya kalo yang satu ini. Padahal contoh nyata orang yang friendly dan luwes ada di depan mata. Ibu dan kakakku adalah mereka. Dengan alaminya Ibu maupun kakakku bergaul dan memiliki bejibun teman. Sedangkan aku, perlu kerja keras dan extra untuk bisa sedikit dibilang luwes dalam bergaul. Jadi jangan heran kalo network-ku yaa itu itu aja. Masih hangat dalam ingatanku, ketika SD aku punya sahabat, dia sangat mudah bergaul, tapi lagi-lagi, aku njomplang kalo dengannya. Aku terkadang judes pada temenku, yang sekiranya gak berkenan di hati. Jadilah aku si judes, hehe… Ketika remaja, bisa dikatakan gak banyak berubah, aku masih tetap sama. Gak punya banyak teman, jarang juga dolan bareng kesono kemari. Pas kuliah kayaknya setali tiga uang. Punya sih beberapa teman dekat, tapi yaa itu tadi, kurang bergaul. Aku menyesal ? Tidak juga. Khan namanya masa lalu. Gak ada yang bisa dirubah.
Rata rata dalam berpenampilan
Boleh dibilang saya ini agak cenderung payah kalo urusan satu ini. Boleh deh tanya ke semua orang yang mengenalku. Jauh deh dari kategori trendy or modis or stylist apalagi fashionista, he…he… Dari kecil saya paling suka pakai kemeja ato blus, dan motifnya kotak-kotak. Sampai sekarang, kemeja kotak-kotak selalu ada dalam lemari bajuku, hanya saja warna dan ukurannya yang ganti-ganti. Andalan dari dulu adalah jeans dan blus. Hanya saja blusnya agak bervariasi sekarang. Mulai batik, bunga-bunga,garis-garis ato polos. Begitulah aku. Gak begitu suka bereksperimen dengan fashion, sukanya yaa itu itu saja. Itu dalam hal berpakaian. Kalo make up apalagi, jangan ditanya. Sama sekali gak suka dandan.Bukan apa, rasanya risih kalo jadi pusat perhatian. Udah gitu aku nih kalo dandan (make up) kok rasanya jadi keliatan lebih tua yaa ?? Makanya ogah kalo disuruh ber -make up ria. Namanya alis dicukur, seumur-umur cuman sekali seumur hidup, yaitu pas nikah. Habis itu ya kapok!! Rasanya aneh banget. Sekarang kemana-mana aku hanya pakai bedak, lipstik kadang-kadang aja. Itupun cari yang warnanya kalem. Hmm.. apa lagi yaa yang membuatku rata-rata. Ohya, asesoris, aku ini aliran amat sangat minimalis, alias kalo gak perlu juga gak pake.
Dan lain lain yang juga rata rata
Hmmm .. apa lagi yaa,yang pasti masih banyak lagi daftar rata-rataku. Setelah menjalani hidup kurang lebih 37 tahun, aku bersyukur atas rata-rataku ini. It’s okay to be an average person. I’m grateful with what I am. I never regret anything. I am happy of me
Melbourne, 29 Sept 2011.
Posted on 29 September '11 by karma, under Everyday Experience. No Comments.
Working bee adalah istilah yang baru aku kenal 1-2 tahun ini. Pertama kenal kata “working bee” ini ketika anakku mulai masuk sekolah di Melbourne. Saat pendaftaran masuk, disitu tertulis sederet daftar biaya untuk masuk ke sekolah dasar negeri milik pemerintah Oz. Salah satunya adalah “working bee for school building” dan disertai keterangan bahwa biaya ini dibayarkan untuk orangtua yang gak bisa ikut membantu(tenaga) saat hari H untuk memperbaiki sekolah. Berhubung rasanya gak mungkin untuk bantu-bantu dalam hal memperbaiki sekolah, akhirnya diputuskan untuk membayar saja working bee ini. Biayanya toh juga reasonable.Ohya, perlu dicatat, biaya uang sekolah di sekolah milik negara ini gratis. Hmmm… enak khan ? Hanya saja ada iuran suka rela, dan itupun tidak banyak. Jadi, itulah awal perkenalan diriku dengan istilah “working bee”. Dapat disimpulkan bahwa working bee adalah kegiatan gotong royong yang sifatnya sukarela alias volunteer.
Nah, cerita terus berlanjut …
Suatu hari aku menerima email dari salah satu orang tua murid teman anakku. Isinya adalah undangan mengajak untuk “working bee” bersama-sama ortu murid lainnya untuk menyiapkan kostum pentas anak-anak. Undangan tertera hari Rabu jam 7.30 malam, di rumah salah satu rumah teman. Berhubung rasanya malas untuk keluar malam malam, apalagi winter begini. Akhirnya aku putuskan untuk tidak hadir. Tapi, eittsss … tunggu dulu, bukannya aku tidak peduli loh… akhirnya aku layangkan email kepada ibu ini. Intinya : “sorry, aku gak bisa ikutan untuk datang, karena gak memungkinkan untuk datang di malam hari. Bisakah aku bantu dari rumah ?” Beberapa hari kemudian datang balasan email. ” Tentu saja, nanti aku titipkan anakmu di sekolah yaa, ini ada apron yang musti dijahit.” dan beberapa hari kemudian, anakku membawa sekantong tas isi apron yang musti dijahit. Betapa kagetnya aku ternyata contoh apron dijahit pakai mesin jahit. Nah loh.. Lha terus piye iki ? aku gak punya mesin jahit. Tapi kalo dibalikin gengsi juga aku, khan aku yang menawari untuk ikut berpartisipasi, masak sih mau aku kembalikan. Iseng-iseng aku nanya di penjahit di dekat uni, yang punya sih dari China, kupikir mungkin murah. Eh, ternyata satu apron simple minta ongkos $ 20. Padahal ada 10 apron … Masak aku mesti keluarin kocek $ 200??? Hmmm… ini tidak mungkin. Ketika mulai bingung, sang suami akhirnya punya usulan, kenapa tidak beli mesin jahit saja ?? coba deh browse harga mesin jahit. setelah cari-cari, ternyata harga mesin jahit untuk pemula adalah $ 100. agak mahal sih menurutku, tapi apa boleh buat, daripada ngeluarin $ 200, sungguh aku tidak rela, hehe…
Minggu siang aku berangkat ke toko tujuan ‘spotlight’ namanya. sesampai disana, yang aku maksud $ 100 kok gak ada. yang termurah dan ready stock $ 150. pikir punya pikir, gakpapa deh, toh yang $ 150 ini lagi sale, dari harga awal $300. ohya, satu lagi yang mesti aku cari, yak , benang ! lha kok harganya $6, alamak … satu benang aja sekitar 50 ribu … masyallah … mahal amat ya? tapi wong namanya butuh, ya apa boleh buat, he..he..
Sesampai dirumah, mesin jahit ini aku install, he..he.. kayak komputer aja pake di”install” segala. akhirnya mesin ini aku pasang sama-sama suamiku. horeee.. berhasil. mesin jahit ini lalu sudah siap untuk dioperasikan. dan tahu enggak ? aku jadi agak addicted sama mainan baruku ini. meski pertamanya agak tertatih-tatih mengoperasikan, akhirnya dari sore sampai malam, aku berhasil menjahit 7 apron ! he…he..buat aku ini sebuah “achievement” , bukannya apa-apa, orang gak pernah jahit tapi suruh jahit, tapi akhirnya berhasil juga.
ternyata dari kisah diriku yang sok tau untuk ikut2an working bee, akhirnya jadi bisa jalanin mesin jahit,he..he… Jadi berpikir apa ya proyek-ku berikutnya, he..he..
Melbourne, 12 September 2011.
Posted on 12 September '11 by karma, under Uncategorized. No Comments.
Siang itu saya menjelajah situs TV lumayan terkenal di Australia. Tujuan saya melihat resep-resep yang mudah untuk diikuti. Maklum ketika merantau di negeri orang dan gak ada pembantu,mau tidak mau mesti masak sendiri. Gak mungkin lah ya kalo mesti jajan di rumah makan terus, bisa bangkrut gak karuan hehe.. apalagi disini gak ada yang namanya warteg.
alhasil, saya menemukan beberapa resep yang lumayan mudah dipraktekkan. cuma ada satu hal yang menggelitik hati saya, disitu ada resep beef rendang, tapi lha kok ditulis kalo makanan ini dari Malaysia yaa ? Apakah betul demikian ? saya gak tahu persis. yang saya tahu rendang berasal dari sumatera barat.
sebetulnya ini PR seluruh rakyat indonesia, untuk terus berpromosi selalu, dimanapun dia berada bahwa beef rendang berasal dari INDONESIA
Posted on 11 September '11 by karma, under Kuliner. No Comments.
OLAH RASA : KEINDAHAN TUBUH
Tubuh manusia yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta sangat menakjubkan dan semuanya mempunyai fungsi dan arti. Setelah diperhatikan dengan seksama, tubuh manusia juga ada keseimbangan. Sebagai contoh : ketika ada input, dalam hal ini makanan, minuman yang masuk maka, setelah proses tertentu pada organ-organ pencernaan, akhirnya pada organ ekskresi ada pembuangan, yang dalam hal ini output. Begitu juga, hidung menghirup udara O2 (input) dan mengeluarkannya sebagai CO2 (output).Ketika jantung memompa darah masuk, maka setelah itu keluar lagi darahnya. Begitu juga dengan hati/lever, zat-zat yang masuk diproses, kemudian si lever bertugas mengeluarkan racun-racun. Bisa dibayangkan jika ada proses pemasukkan tetapi tidak ada proses pengeluaran, pasti system tubuh akan jadi kacau, menumpuk, dan merugikan.
Keseimbangan juga terlihat pada saat tidur untuk beristirahat, kita memejamkan mata, pada saat beraktivitas kita membuka mata. Jadi kadang-kadang mata kita terbuka dan kadang tertutup. Keindahan bahwa mata bisa terbuka dan tertutup.
Saya baru menyadari bahwa system dan bagian tubuh manusia ternyata juga memiliki fenomena keseimbangan. Hidup manusia juga sebaiknya seimbang.
23 August 2011
Posted on 23 August '11 by karma, under Everyday Experience. No Comments.
Yang namanya cemas sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari setiap manusia, hanya saja kadarnya yang agak beda-beda. Kecemasan yang dibiarkan terus ada dalam diri kita, lama-lama akan mendarah daging dan menjadi kebiasaan, akhirnya malah menjadi karakter kita. Padahal yang namanya cemas ini khan suatu khayalan di masa datang dan tentu saja tidak mengenakkan. Akibat yang ditanggung oleh manusia karena cemas ini juga menyangkut mental maupun fisik kita. Menurut para ahli medis, cemas bisa mengentalkan darah, meningkatkan tekanan darah, timbulnya masalah jantung, sakit perut, dan juga kadang-kadang kesulitan bernafas. Belum lagi insomnia dan energi badan yang menurun.
Dari segi mental, kecemasan akan membuat kita tidak bisa berpikir jernih, kecenderungan untuk panik dan tidak dapat menyelesaikan masalah dengan tenang.
Bagaimanapun juga, dalam hidup ini kita akan selalu mengalami ups and downs, kita akan mengalami yang namanya penderitaan. Terkadang orang yang kita cintai mengalami sakit, anak yang sulit sekali diajak kerja sama (alias membangkang), was-was akan pasangan yang mungkin selingkuh, hutang yang tidak lunas-lunas dll. Jadi terus lah mengingatkan dalam diri kita bahwa, segala sesuatu ini terus akan berubah, dari senang, kemudian senang, susah lagi dan seterusnya. bahwa hidup ini kita akan mengalami yang namanya hal yang menurut kita tidak mengenakkan. Kalau kita sudah bisa menanamkan dalam pikiran kita bahwa, semua ini sifatnya sementara dan ketidaknyamanan dan kebahagiaan akan terus datang silih berganti. Niscaya tingkat kecemasan ini akan berkurang. Karena apabila kita terus cemas (worry) akan hal-hal yang tidak mungkin kita elakkan, maka akan membuat penderitaan kita menjadi-jadi. Ohya, bagaimanapun juga, yang paling penting adalah latihan dan latihan. Latihan untuk tidak sedikit sedikit merasa khawatir dan cemas. Bahwasannya cemas hanya akan membawa ketidakdamaian. Quoted from my dad’s saying : Heaven starts when we stop worrying.
Rumusnya sederhana saja : bersabar dan mau menerima apapun kejadian yang kita alami.
Refleksi untuk diriku sendiri ketika anak dan suamiku sakit di bulan ramadhan ini.
Melbourne, 22 August 2011.
Posted on 22 August '11 by karma, under Everyday Experience. No Comments.
Sengaja saya hari ini menulis tentang TOLERANSI, karena mengusik hati kecil saya selama ini. Kata toleransi saya kenal pertama kali ketika menginjak bangku SD, tetapi lupa tepatnya kelas berapa, perkiraan sih kelas 5 atau 6. Toleransi ini aku dapati di salah satu butir Pancasila. Yupp, di dasar negara kita, PANCASILA. Nilai luhur PANCASILA ini mengandung etika moral yang mestinya menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia. Kembali ke kata toleransi, di salah satu butirnya mengatakan : Mengembangkan sikap tenggang rasa, dimana artinya sama dengan toleransi. Toleransi ini sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Terutamanya kepada sesama manusia, tanpa membedakan agama, suku, dan ras.Dengan dasar toleransi ini, kita bisa memberikan kasih sayang kita kepada sesama manusia. Dengan toleransi ini pula kita dapat belajar menerima orang lain apa adanya, belajar untuk mengerti situasi dan kondisi orang lain, sehingga hubungan yang harmonis ini dapat terwujud. Semisal kejadian di lingkungan kita sehari-hari, toleransi kepada anak kita yang ingin bermain di rumah temannya, padahal kita sedang tidak ingin (malas) antar jemput ke rumah temannya yang agak jauh. Kita sebaiknya belajar, memposisikan diri kita di kaki orang lain.
Begitu juga dengan pergaulan kita sehari-hari, dengan orang lain dengan latarbelakang yang berbeda-beda. Jika kita bisa menjalani tanpa melihat ada label perbedaan, maka hidup akan terasa damai. Tidak melihat diri kita lebih dari orang lain. Tidak memberikan penilaian atau judgement kepada orang lain dst. Akan tetapi melihat sesama manusia adalah sama.
Toleransi ini bisa kita jalani melalui pikiran yang luas, terbuka, tidak dangkal atau istilah kerennya : open mind. Coba kita bayangkan bila kita memiliki segelas air minum, kemudian kita beri satu sendok racun. Ketika kita minum, tentu saja kita langsung KO. Akan tetapi kalo sesendok racun itu kita masukkan dalam sebuah telaga yang luas. Bila seandainya kita minum, pasti tak akan terjadi apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Begitu juga dengan pikiran kita. Jika kita memiliki pikiran seluas samudera, ada kerikil atau hal negatif yang terlintas atau kita mengalami hal yang tidak mengenakkan. Maka dengan entengnya kita akan berkata kepada diri kita sendiri. “Ini khan hal kecil, dan akan hilang begitu saja. Kita tidak akan mengalami penderitaan dsb”.
Intinya : hidup dengan toleransi, membuat kehidupan lebih damai. Luaskan-lah pikiran, besarkan hati, dan terus berusaha untuk saling menyayangi sesama manusia.
Ramadhan @ Melbourne, 21 August 2011.
Posted on 21 August '11 by karma, under Everyday Experience. No Comments.
Page 1 of 912345»...Last »